Header Ads

  • Breaking News

    Memahami Unsur Intrinsik Puisi dan Pantun

    Apa-apa saja unsur intrinsik Puis dan Pantun Itu ayoo kita belajar bersama,,,
    Puisi adalah ungkapan pengalaman batin seseorang yang diwujudkan dengan bahasa-bahasa indah, perumpamaan, dan kiasan (sumber: anneahira.com). Puisi biasanya terikat oleh jumlah bait, baris, dan rima (persajakan). 

    Unsur intrinsik puisi adalah unsur-unsur pembangun puisi, yaitu
    a. tema: pokok persoalan yang mendasari puisi;
    b. amanat: pesan/nasihat yang ingin disampaikan pengarang;
    c. perasaan penyair: suasana hati penyair saat menciptakan puisi;
    d. nada puisi: sikap kita terhadap persoalan yang dibicarakan.

    Puisi terdiri atas 2 jenis, yaitu
    a. Puisi lama, di antaranya.

    1) Pantun 
    Contoh: 
    Berburu ke padang datar
    Mendapat rusa belang kaki
    Berguru kepalang ajar
    Bagai bunga kembang tak jadi

    Maksud dan amanat pantun tersebut adalah apabila kita tidak bersungguh-sungguh menuntut ilmu, kita akan rugi karena tidak mendapat apa-apa.

    Contoh pantun berikut adalah pantun keagamaan: 
    Kemumu di dalam semak
    Jatuh melayang selarasnya
    Meski ilmu setinggi tegak
    Tidak sembahyang apa gunanya

    Maksud pantun tersebut adalah meskipun kita berilmu tinggi, ilmu tersebut tidak ada gunanya jika kita tidak menjalankan kewajiban sesuai agama kita.

    Contoh pantun jenaka: 
    Pohon manggis di tepi rawa
    Tempat Kakek tidur beradu
    Sedang menangis Nenek tertawa
    Melihat Kakek bermain gundu

    Maksud dari pantun tersebut adalah Nenek tertawa geli karena melihat Kakek (meskipun sudah tua), main gundu (kelereng), seperti anak-anak.

    Berdasarkan pantun tersebut dapat disimpulkan bahwa ciri-ciri pantun adalah sebagai berikut:
    (a) setiap bait terdiri atas empat baris;
    (b) setiap baris terdiri atas 8 sampai dengan 12 suku kata;
    (c) baris pertama dan kedua merupakan sampiran, sedangkan baris ketiga dan keempat merupakan isi;
    (d) berima (sajak akhir) a-b-a-b.

    2) Syair 
    Syair adalah puisi lama yang bentuknya lebih bebas daripada pantun.

    Contoh: 
    Titik koma mana yang kurang
    Atau ejaan tiada terang
    Pembaca jangan berhati berang
    Silap dan rua kerap menyerang

    Makna yang terkandung dalam syair di atas adalah pembaca jangan marah jika ada kesalahan dari penulis.

    Ciri-ciri syair di antaranya adalah sebagai berikut:
    a) Setiap bait terdiri atas 4 baris;
    b) Setiap baris terdiri atas 10-12 suku kata;
    c) Bersajak (rima) a-a-a-a.

    Selain syair dan pantun, masih ada karangan puisi lama yang lain, misalnya talibun dan gurindam.

    b. Puisi baru/modern 
    Jenis puisi ini tidak terikat pada bait, jumlah baris, ataupun sajak (rima) dalam penulisannya.

    Contoh puisi baru/modern:

    Untuk Penjual Koran

    Sahabat, apalah kau tak pernah lelah
    Seharian berdiri di jalan-jalan
    Dalam hujan dan debu
    Dan asap-asap kendaraan?
    Suaramu menggugah
    Orang yang serbaingin tahu
    “Ada berita apa hari ini?”
    Seorang pengemis mati tertabrak!
    Mayatnya tergeletak
    Di tengah keramaian lalu lintas kendaraan
    Berkat kau juga
    Kegembiraan para petani
    Dalam memetik hasil panen
    Terima kasih, sahabat, terima kasih

    (Sherly Malinton, Bunga Anggrek untuk Mama, Balai Pustaka, 1981)

    Dari puisi di atas, dapat kita ambil beberapa kesimpulan:
    a) Latar tempat puisi itu adalah jalan raya yang ramai.
    b) Latar waktu puisi adalah sepanjang hari dari pagi hingga sore hari.
    c) Sifat tokoh yang digambarkan si penulis puisi adalah seorang anak yang rajin bekerja.
    d) Amanat puisi itu adalah agar kita menghargai semua orang, termasuk penjual koran karena kita membutuhkan dia.

    Di dalam puisi, terdapat gaya bahasa yang disebut majas. Majas ada beberapa macam, di antaranya sebagai berikut:
    a. Hiperbola adalah gaya bahasa yang melebih-lebihkan sesuatu.
    Contoh: Korban tergeletak dan darahnya membanjiri jalanan.
    b. Personifikasi adalah gaya bahasa yang menerapkan sifat-sifat manusia ke dalam benda.
    Contoh: Hari masih sepi, mentari baru terbangun dari tidurnya.
    c. Metafora adalah majas yang membandingkan satu hal dengan hal lainnya yang memiliki kemiripan sifat.
    Contoh: Tikus-tikus di gedung DPR banyak sekali.
    Engkaulah matahariku.

    Hal yang harus diperhatikan dalam menulis puisi sebagai berikut:
    a. Tentukan pengalaman yang paling menarik untuk dijadikan puisi.
    b. Tulis pengalaman itu ke dalam baris-baris puisi dengan kata-kata yang indah dan padat.
    c. Pilihlah kata-kata yang memiliki makna khas atau konotatif.
    d. Berlatihlah terus-menerus agar menghasilkan puisi yang indah dan menarik.
    e. Publikasikan puisi itu melalui majalah dinding atau media massa.
    Sumber : http://www.erlangga.co.id/

    Post Top Ad

    Post Bottom Ad